Pay Back, Medan Debaters Forum!



Hidup bagi beberapa orang dimulai dengan sebuah motivasi yang tumbuh oleh kesedihan dan kegagalan yang beruntun terjadi. Bagi sebagian orang, hidup dimulai dari sebuah penemuan akan sesuatu yang kita idamkan, sesuatu yang kita sadari setelah kita menjalaninya. Terkadang cepat, terkadang lambat untuk dimengerti, tapi kita sadar, ada sebuah perasaan bahagia yang tak mampu didefinisikan ketika kita melakukannya. Itulah definisi hidup yang bisa saya gambarkan.

Apa yang kemudian saya sadari pula bahwa definisi "hidup", adalah realitas bahwa saya sampai saat ini, mencintai dan melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak peduli apakah hal itu akan memberikan keuntungan atau tidak, memberikan kompensasi publisitas atau tidak. yang pasti saya menyukainya.

Saya memulai cerita ini, sebagai permulaan perenungan rasional, atas hal-hal yang telah saya lakukan sejauh ini. Ada banyak hal yang telah saya lakukan dalam hidup selama 24 tahun usia saya, yang kemudian menyadarkan bahwa semua perbuatan tersebut dimulai, dan digerakkan oleh suatu kegemaran dan kesukaan yang demikian besar akan aktivitas bertukar pendapat, mencari persamaan dan perbedaan serta kritisisme atas realitas yang ditemui dan disampaikan dalam forum intelektual dalam bahasa bukan bahasa ibu. Ya, itu debat bahasa Inggris.

Permulaan yang sebenarnya tidak berkesan apa-apa. Medio Februari 2008, ketika saya adalah mahasiswa ingusan yang masih bingung akan apa yang harus saya kerjakan selama menjadi mahasiswa. Kegagalan demi kegagalan semester lalu ketika mencoba terjun dalam jurnalisme dan keorganisasian kampus membuat saya akhirnya mengambil keputusan bahwa kedua hak tersebut bukanlah bidang yang dapat saya jalani ke depan.

Sebuah pengumuman di depan kantin, tentang perekrutan terbuka anggota baru, menggerakkan saya untuk menghubungi contact person yang tertulis di sana. Saya akhirnya datang pada pertemuan rutin klub tersebut. Tanpa disengaja, dalam pertemuan tersebut sedang diadakan seleksi tim debat yang akan bertanding di sebuah lomba debat regional di Padang, Sumatera Barat. Singkat cerita, saya akhirnya terpilih, dan disanalah cerita ini dimulai.

Debat menjadi sebuah perjalanan epik dalam hidup saya, ketika terpilihnya saya membuka jalan bagi pintu-pintu lain. Ketika begitu banyak kesempatan akhirnya terbuka di hadapan saya, yang kemudian saya jajal, lalu kemudian mengubah pola pikir dan orientasi personal akan apa yang harus saya lakukan ke depan.

Secara praktis, debat bahasa Inggris menawarkan 2 kesempatan. Kesempatan menjadi pendebat (debater) dimana kita akan banyak mengikuti kompetisi dan kejuaraan sebagai peserta untuk mencari kemenangan, dan kesempatan menjadi juri (adjudicator) dimana kita akan memiliki banyak kesempatan untuk menapaki profesionalitas dalam menilai dan menganalisis orang-orang yang bersitegang leher di depan kita demi keputusan kemenangan yang kita ambil.

Bohong kalau keduanya adalah hal yang mudah. It's more teribble than nightmare if you're only beginner. Anehnya, saya menikmatinya. Menikmati ketika saya menjadi looser yang harus menelan kekalahan oleh karena kelalaian atau hanya karena kesalahan konyol. Menikmati ketika cibiran dan ejekan oleh karena pelafalan saya yang kurang fasih - sejujurnya saya sangat lemah dalam hal tersebut - lalu seperti anak ingusan mengulanginya berulang-ulang sebelum tidur layaknya mantra pengusir beguganjang.

Semuanya begitu berkesan, inspiring dan valuable. Bagaimana seorang manusia yang selama belasan tahun menganggap tampil ke depan adalah bencana dimana keringat akan mengucur dari kening sampai ujung celana, tetapi kemudian berubah menjadi banci panggung yang ingin maju dan berbicara di depan orang dimana saja, semuanya oleh karena debat. I tell you something secret, terlalu lama berdebat di depan banyak orang tanpa sadar telah mengubah pola pikir dan persepsi, dimana akhirnya kita berpikir bahwa manusia adalah puppet yang harus kita kendalikan ketika kita berbicara, coz' we are smart and they are stupid at the time.

Lagipula saya tak ingin munafik, ada begitu banyak personal values yang dengan berani saya katakan I am able kepada setiap orang, oleh karena nilai-nilai yang saya sadari, saya dapatkan di debat. Negotiating, public speaking, management dan very high critical analysis. Sayangnya, banyak juga yang mengaku punya kemampuan mirip dengan saya, tapi mereka saya bullshitters, oleh karena pembuktian di lapangan yang saya temukan. Finally, I am being able and they pretended forget what they said. Semua karena debat.

Life's too short. Sesingkat saya yang akhirnya harus tamat kuliah dan mencari pekerjaan. Jalan hidup menakdirkan saya untuk tinggal dan bekerja di sini. Tidak apa, sepanjang saya masih bisa menjalani apa yang saya suka sebagai alasan untuk tetap bernafas. saya masih berkecimpung dalam debat, menjalani dan mengerjakan apa yang menurut saya berguna bagi saya, dan perkembangan debat dimana saya tinggal.

Ada semacam moral obligation yang sedang saya kerjakan saat ini. Saya sesadar-sadarnya tahu bahwa what I am today is caused by debate, and this is time to pay debate back. Saya berpikir harus ada gerakan. Gerakan untuk membuat debat bahasa Inggris tidak hanya dianggap insidentil sporadis, tapi juga bagaimana agar dapat sustainable dan terlebih sistematis untuk menghasilkan fondasi kuat guna berkembang lebih besar, dan lebih maju serta dapat dipertanggungjawabkan ke publik. Untuk itu, perlu ada lembaga yang cakupannya lebih besar, tidak hanya sebatas internal tapi bagaimana kita bisa menghubungkan institusi-institusi yang sudah ada, untuk melakukan sesuatu yang lebih besar, terlebih mengenalkan " treasurable diamond " ini ke banyak orang muda. Dan kemudian saya menginisiasikan Medan Debaters Forum yang saya perkenalkan sejak Juli 2010.

Ada beberaapa hal yang ingin saya luruskan terkait Medan Debaters Forum (MDF). Pertama, ini bukanlah klub debat sebagaimana yang jamak ditemui di banyak sekolah dan universitas. Medan Debaters Forum adalah forum, aliansi, atau kumpulan dari semua klub debat yang ada di Kota Medan. dengan kata lain, MDF bukanlah klub debat yang akan merebut simpati untuk menggaet anggota baru, karena aliansi MDF adalah klub debat, yang berarti organisasi, bukan manusia.

Kedua, beberapa manusia yang mungkin tidak punya kartu kredit dan saldo tabungan yang cukup, menuduh bahwa MDF adalah proyek akal-akalan pribadi saya untuk mengambil keuntungan nominal, terutama dalam setiap asistensi yang diberikan. Perlu saya beritahukan, bahwa sampai saat ini, tidak ada keuntungan finansial yang baik saya maupun relawan MDF dapatkan secara signifikan. Mari saya jelaskan dengan detail.

Misalkan: Sebuah kompetisi debat memberikan transport fee kepada setiap adjudicator sebesar IDR 50.000 per hari, Pertanyaan rasional adalah, apakah saya akan menghabiskan satu hari penuh waktu saya yang berharga bila hanya ingin mengejar IDR.50.000? Oke, perkembangan jaman akhirnya akan mengakibatkan transport fee terfluktuasi sesuai hukum Ekonomi, mungkin menjadi IDR.150.000 per hari atau kurang. Tapi pertimbangkan juga, apakah semuanya itu cukup untuk membiayai semua kegiatan operasional dalam hal persiapan sampai pelaksanaan? Silahkan jawab sendiri.

Lalu mengapa saya masih berminat menjadi juri (adjudicator)? Semata-mata karena kecintaan dan kebutuhan saya untuk selalu belajar, mengembangkan diri, dan berbagi apa yahg saya tahu kepada orang-orang baru, yang akhirnya semakin memperluas jaringan relasi serta kesenangan hidup. Apakah ini terlalu muluk? That’s silly to tell it, but you must know.

Komentar

  1. Aku sih kurang Jago kalau masalah debat ini, Soalnya aku tuh kurang bisa mengolah kata kata menjadi enak di dengar dan meyakinkan

    BalasHapus
  2. Sering saya menghindari debat yang ujungnya debat kusir. Tapi kalau debat-debat bahasa inggris maupun Indonesia yang diperdebatkan kaum intelektual lantas menghasilkan solusi, saya senang juga lihatnya

    BalasHapus
  3. Sepakat kalimat closingnya bang. Seringkali memang pengalaman dan ilmu bisa jauh lebih berharga dari sekedar fee yang didapat dari sebuah even.

    BalasHapus
  4. Kalau saya kebetulan tipe yang gak bisa debat tp kalau nonton orang debat saya suka. Apalagi kalau suruh debat pakai bahasa inggris , bahasa Inggris saya aja acak kadut. Bisa keringet dingin saya langsung.

    BalasHapus
  5. Kalau saya jujur aja ya bang, untuk fee 50K seharian rasanya kurang. Mohon maaf bukannya ga bersyukur tapi kita sudah mengorbankan tenaga, pikiran dan belum lagi ninggalin keluarga seharian hehe. Tapi ya masing2 orang beda-beda kan ya.

    BalasHapus
  6. Kalau sudah menemukan passion, memang nikmat sekali mengerjakannya Bang. Meski ruwet dan tidak dibayar, hati ini senang. Tentu saja tidak semua orang sepakat dengan kita, biarlah, toh tidak mengganggu mereka juga. Semangat ya, fokus saja pada misi dan visimu. Sukses akan menjelang!

    BalasHapus
  7. Semangat kak..
    Memang untuk sebuah passion yang kita senangi, kita sering tutup mata dari finance yang kita dapat.
    sama kayak saya yang dulu suka dunia radio. Saya gak keberatan dibayar dengan fee yang kecil. Hehe, mungkin inilah aktualisasi dari kalimat love is blind

    BalasHapus
  8. Bener mbak, selalu melakukan hal yang dicintai dalam hidup ini

    BalasHapus
  9. Saya senang baca tulisan ini. Runtutdan rapi penyajiannya, disampaikan dengan bahasa Indonesia yang baik. Perkara debat dalam suatu forum terbuka, itu bukanlah hal yang mudah jika dibawakan dalam bahasa Inggris, misalnya. Tetapi saya yakin peserta beroleh banyak manfaat, pengalaman baru sekaligus pembelajaran baru untuk lebih baik.

    BalasHapus
  10. Bicara soal debat, waktu SMA saya ditantang guru bahasa Inggris buat ikutan. Tapi balik lagi kepercayaan diri dan kemantapan hati yang kurang teguh, jadi gak jadi ikutan he..he...

    BalasHapus
  11. Wah kk nya hebat nih jago debat2, banyakan klo yabg jago debat itu orangnya cerdas karena kan harus bisa mikir cepat untuk mulai/balas debat lawan diskusinya. Sukses terus ya kak

    BalasHapus
  12. Wahhh semangaatt
    Memang banyak hal baik yg harus kita lakukan, ga perlu melulu lihat brp imbalannya yaaa

    BalasHapus
  13. Seandainya program kayak gini bisa diadakan di banyak daerah kak pasti bagus nih untuk perkembangan pendidikan anak-anak kita terutama yang di daerah.

    BalasHapus
  14. Jujur saya tidak bisa debat, dan kalo melihat acara debat pun saya pilih-pilih. Saya lebih tertarik dengan debat edukasi atau sains ketimbang politik .

    BalasHapus
  15. Menurut saya, debat Bahasa Inggris itu keren. Dan.. saya tidak bisa melakukan itu hehehe.
    Namun di closing, saya suka. Karena memang, dalam hidup ini, tidak selamanya diukur dengan materi. Saya sering ikut sebuah acara yang fee-nya itu jauh dari ongkos yang harus saya keluarkan. Tapi... pengalaman dan di sana saya dapat banyak pelajaran.

    BalasHapus
  16. aku paling gak bisa debate, apalagi kalau bahasa inggris. Aku paling bakalan menyebutnya diskusi, bukan debat :v

    karena kalau debat sudah pasti kalah aku mah

    BalasHapus
  17. Salut untuk perjuangannya, Mas
    Enggak usah didengerin yang nyinyir. Jika ikhlas akan berlimpah berkah buat kita. Tetap semangat ya, semoga Medan Debaters Forum makin sukses ke depannya!

    BalasHapus
  18. betul sekaliii. pasti kita semua mayoritas bisa dengan suka rela melakukan hal yang kita suka. apalagi hobi yang jadi pekerjaan.. semangat terusss Mas

    BalasHapus
  19. Melakukan apapun yang menjadi passion itu akan membuat kita merasa enak menjalaninya. Tetap semangat ya ...

    BalasHapus
  20. Kalau memang passion pasti kita ikhlas dan suka untuk melakukannya. Dan jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, tak perlu kita menjelaskannya, orang lain akan melihatnya juga. Salut mas.

    BalasHapus
  21. Saya gak begitu suka debat apalagi nonton debat, kl disuruh berdebt pasti saya kalah. Orang yg suka berdebat wawasannya harus luas biar gk bemgong aja di forum

    BalasHapus
  22. KDH (Komunitas Debat Hukum) Fahum Umsu udah jd anggota MDF belum, Bg? Apa aja persyaratannya biar sy sosialisasikan ke mhsw sy, hehe. Salam kenal yaa Bg Hotma.

    BalasHapus
  23. Keren kak sudah menginisiasi hadirnya wadah forum debaters di Medan sana. Saya banyak jumpa teman-teman debaters dan selalu kagum dengan kemampuan berpokir kritis dan cas-cis-cus berbahasa inggris. Saya sampai nyesal. Kok dulu ga ada ikut kegiatan begitu. Hehe

    BalasHapus
  24. sebenernya saya tidak suka berdebat,.. apalagi sampai slaing-ngotot-mengotot.... pokoknya saya anti deh

    BalasHapus
  25. Saya suka acara debat apalagi klu ikut menjadi peserta
    karena bisa membuka wawasan dan menyampaikan pendapat
    tapi kalau pake bahasa inggris saya nyerah karena english saya jelek hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer