Pay Back, Medan Debaters Forum! #Part 2

     Pada tulisan yang lalu, saya telah menceritakan mengapa debat menjadi hal yang amat menarik bagi saya sampai saat ini dan mengapa pula saya mendirikan Medan Debaters Forum (MDF). Menurut saya, perlu ada informasi tambahan tentang bagaimana MDF dijalankan dan apa program yang akan dilaksanakan ke depannya, dan untuk itulah tulisan ini ada.

-------------------------------------------------******-----------------------------------------------------------
      Satu hal yang luput saya sampaikan adalah bahwa di awal pembentukannya, lembaga ini saya buat dengan nama Medan Debaters Community. Saya menganggap pada awalnya, bahwa oleh karena debat adalah suatu kesenangan yang menyenangkan, maka ada baiknya mengumpulkan orang-orang yang mempunyai kesenangan yang sama dalam suatu perhimpunan lalu mengerjakan hal-hal yang menyenangkan di dalamnya.

      Akan tetapi, pertengahan 2011 saya memutuskan untuk mengubah paradigma dan pola pikir saya akan lembaga ini. Saya menemukan suatu kesadaran bahwa membentuk suatu komunitas bukanlah suatu hal yang baik untuk dilakukan dalam rangka proliferasi dan pengenalan debat. Fakta bahwa debat parlementer berbahasa Inggris (Parliamentary English Debating) adalah sebuah hal baru dan hampir semua institusi, baik Sekolah Menengah Atas maupun Universitas sedang berjuang untuk merekrut anggota baru dan membangun fondasi klub debat mereka masing-masing. Perjuangan ini tentunya membutuhkan pentolan-pentolan yang militan dan mempunyai rasa ketertarikan yang luar biasa besar, agar mampu keep surviving dan berbuat lebih. Kenyataan ini menyentak comfort zone saya dengan sebuah pertanyaan besar, "Kalau semua pentolan-pentolan ini tertarik bergabung dalam komunitas ini, lalu bagaimana dengan klub debat mereka masing-masing?"

      Kesadaran ini akhirnya menggerakkan saya untuk mengubah paradigma lembaga ini. Saya ingin untuk menarik simpatisan yang berbentuk komunitas-komunitas, institusi maupun lembaga yang mempunyai klub debat. Saya ingin keanggotaan lembaga ini bersifat multi-institutional platform. Basis tukar pikiran yang lebih formal dimana anggotanya adalah institusi yang berisi sekumpulan individu kecanduan debat. Sebuah inkubator yang berisi inkubator-inkubator sepaham, bukan janin-janin personal. Pertimbangan tersebut akhirnya berwujud Medan Debaters Forum (MDF).

      Bicara mengenai lembaga formal, tentunya diperlukan instrumen-instrumen organisasi guna menunjang kelancaran operasional dan pelaksanaan program. Saya perlu media, dimana dengan kecanggihan teknologi saat ini, media sosial adalah opsi yang paling mudah, cepat dan paling ampuh dalam memberikan informasi yang relevan. Saya memanfaatkan media sosial Facebook yang kemudian melahirkan Facebook Group (klik disini) yang kemudian disusul dengan Facebook Fan Page (klik di sini) sebagai wadah untuk memperkenalkan dan menampung para teman, rekan serta simpatisan yang juga mempunyai ketertarikan terhadap English Debating, Critical Analysis serta Public Speaking.

      Dinamika media sosial juga tidak luput saya perhatikan. Kecenderungan sebagian besar simpatisan yang merupakan urban citizens yang memilih lebih menggunakan media sosial Twitter juga mendorong saya membuat akun @medandebaters (klik di sini). Semuanya untuk memberikan akses yang lebih luas bagi banyak orang untuk mengenal dan berinteraksi mengenai debat. Semuanya saya jalankan sendiri, dengan harapan agar lebih banyak orang tergerak hatinya untuk berkontribusi lebih lanjut.

      Sampai saat ini, dedikasi ini telah diapresiasi, dan beberapa simpatisan telah memberikan kontribusi yang mengagumkan. Pernah suatu ketika, saya kebingungan apa logo yang akan digunakan MDF ke depannya. Pengetahuan saya yang minim akan aplikasi drawing dan pengolah foto mengakibatkan pada waktu itu, MDF belum mempunyai logo resmi. Saya coba membagi problem tersebut pada beberapa rekan, lalu akhirnya salah seorang rekan yang saat itu sedang kuliah di LP3I Medan, Muhammad Fadhel Ginting, menyumbangkan beberapa desainnya. Setelah diskusi dan seleksi singkat, akhirnya dipilihlah salah satu desain yang menurut half sixth sense saya, paling mendekati apa yang diharapkan (gambar dapat dilihat dibawah).
 
Official Logo of Medan Debaters Forum

      Kontribusi kedua datang dari simpatisan lain. Ahmad Thantawi Ashari, seorang maniak debat yang telah mendedikasikan hidupnya untuk debat selama bertahun-tahun di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Tawi, begitu dia biasa dipanggil, mengusulkan pembuatan blog sebagai digitalized online documentary media. Tawi bahkan menyodorkan dirinya untuk menjadi relawan yang akan mengurus dan mengembangkan blog tersebut, yang kemudian disebut Medan Debaters Forum's Blog (klik di sini), sebagai bentuk kontribusi dan dukungannya terhadap eksistensi debat bahasa Inggris di Medan secara berkelanjutan.

      While good one done, another goods would be come. Aktifitas yang saya dan simpatisan lakukan selama ini ternyata menarik simpati lebih banyak orang-orang berbudi. Pria Santri Beringin, Pendiri klub debat USU Society for Debating di Universitas Sumatera Utara memberikan respon positif atas apa yang kami lakukan. Bang Santri, demikian beliau biasa dipanggil, adalah personal yang telah bertahun-tahun berkarir di lembaga nirlaba internasional dan saat ini sedang bersiap melanjutkan studinya di University of New South Wales, Australia. Dalam sebuah diskusi singkat beliau  memberikan opsi legalisasi MDF secara perdata. Menurut beliau, legalisasi penting untuk mengembangkan lembaga ini guna menjaring koneksi baru yang lebih luas serta menciptakan peluang kerja sama yang lebih menguntungkan. Berkat jejaring koneksinya, saat ini Medan Debaters Forum sedang merampungkan Akte Pendirian, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta mendaftarkannya di salah Notaris. It fruits sweetly without any compensation.

      Sebagai penutup, saya ingin membagikan bocoran dokumen pendirian Medan Debaters Forum. Semoga setelah membacanya, anda akan tahu apa yang sebenarnya ingin kami capai. Sometimes moral seems nonsense, but it often values priceless in our belief.


------------------------Pasal 4 ---------------
Maksud dan tujuan didirikannya organisasi ini adalah untuk memperkenalkan serta mengembangkan daya nalar kritis dalam bentuk kegiatan-kegiatan debat kepada masyarakat luas, terkhususnya generasi muda, dalam rangka pembangunan kapasitas (capacity building) dengan cara;- -

a.    Sebagai sebuah wadah dalam menginisiasi perkumpulan debat profesional yang mewadahi aspirasi serta tujuan komunitas-komunitas debat yang ada di Indonesia,khususnya pulau Sumatera;- 

b.    Sebagai sarana pendamping institusi-insitusi pendidikan untuk mengenalkan dan mengajarkan debat sebagai elemen penting dalam peningkatan kapasitas berpikir;--

c.    Sebagai sarana untuk mendorong terciptanya klub-klub debat di tiap-tiap institusi pendidikan untuk semakin mengenalkan debat secara lebih luas dan masif;--

d.    Sebagai sarana yang akan memberikan layanan-layanan -- pendidikan  bagi institusi maupun kelompok-kelompok yang memiliki minat yang tinggi untuk mempelajari debat lebih lanjut;--

e.    Sebagai sarana untuk mendorong terciptanya berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan debat di masyarakat guna memberikan ruang aktualisasi serta akses kerjasama lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait;- 

f.    Sebagai sarana serta mendorong terciptanya masyarakat yang memiliki pola pikir kritis, analitis dan sistematis dalam menyingkapi setiap fenomena yang berkembang guna terwujudnya masyarakat yang lebih berbudaya dan bermartabat.- 

---------------- KEGIATAN USAHA LEMBAGA -----------------
----------------------- Pasal5. -------------------------- 
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas lembaga akan melakukan berbagai kegiatan usaha yang dipandang baik, perlu dan sah oleh Badan Pengurus, antara lain:- 

a.    membantu pemerintah melaksanakan dan memaksimalkan --- keberhasilan program-program debat seperti National University English Debating Championship (NSDC),National School English Debating Championship (NSDC),- dan lain-lain;- -

b.    mengadakan program pendidikan debat alternatif bagi pelajar dan mahasiswa seperti, Focus Group Discussion- (FGD), Critical Analysis Discussion (CAD), Round Table Thinking (RTT), dan lain-lain;--

c.    memberikan pelatihan-pelatihan guna mendorong peningkatan kemampuan debat bagi generasi muda secara berkelanjutan seperti; Coaching Clinic, Parliamentary Debate Workshop, Training of Trainee (ToT), Parliamentary Debate Simulation, dan lain-lain;--

d.    mensosialisasikan urgensi debat bagi generasi muda melalui pengadaaan kompetisi debat yang dilakukan secara regular untuk semakin meningkatkan minat dan atensi generasi muda serta memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk dapat mengaktualisasikan diri dan berprestasi;-- 

Komentar

Postingan Populer