Hidup pada Persimpangan Ke-30
Setiap
orang menyadari bahwa langkah dan kaki telah membawa hidupnya berjalan
sedemikian jauhnya, yang belakangan
disadari pada momen-momen tertentu. Saya telah sering melihat bahwa seringkali
momen ulangtahun dijadikan kesempatan untuk refleksi diri bagi banyak orang.
Memandang ulang tahun sebagai momen sakral untuk sejenak melihat ke belakang, merenung atas setiap langkah
yang telah dilalui.
Tidak salah memang, namun mungkin akan berbeda bagi saya pribadi.
Bagi
saya, momen ulang tahun adalah penanda kegelisahan. Sebenarnya saya begitu cuek
pada momen ini. Terakhir kali saya mengingat ketika usia saya akan beranjak 25
tahun, menandakan bahwa telah seperempat abad saya hidup dan bernafas di bumi,
terlebih pada saat itu sedang merencanakan pernikahan. Selebihnya saya lalui
dengan biasa saja. Meskipun istri telah berusaha untuk mengabadikannya melalui
beberapa perayaan kecil, namun oleh karena ketergugahan itu tidak kunjung
muncul, maka saya hanya menganggapnya sebagai perayaan khusus untuk
menyenangkan orang-orang terdekat untuk makan bersama. Sejujurnya saya memang
tidak begitu familiar dengan perayaan, satu kepingan yang menandakan bahwa
masih ada sisa-sisa introvert yang terlanjur melekat meskipun saya telah
membebaskan belenggu tersebut
untuk kemudian berkembang
extrovert dengan pesat
semenjak mengenal debat bahasa Inggris.
Namun,
tahun ini terasa berbeda. Saya telah mewanti-mewanti hal ini semenjak waktu
telah mulai memasuki tahun 2018. Saya mulai was-was ketika saya merasa mulai
mendekati estafet untuk fase kehidupan berikutnya. Ya, umur 30, mungkin saya
menilai hidup saya dengan kelipatan bilangan angka 5, rentang waktu yang saya
rasa memadai untuk menilai pencapaian. Kesimpulan pertama pada pada
momen usia 25 tahun, bahwa hidup saya kedepan akan berjalan secara normal, tidak
akan mampu berakselerasi dikarenakan beberapa
kondisi yang harus diterima sebagai nasib kehidupan.
Tentu cerita ini akan terang benderang bila saya bisa menceritakan sedikit hal yang masih saya ingat pada momen usia 25 tahun. Kala itu, saya telah berkesimpulan bahwa menjalani pekerjaan sebagai birokrat pemerintah daerah di suatu kota kecil bernama Binjai adalah hal yang harus saya terima, selayaknya setiap orang tentu akan diletakkan di suatu tempat, baik terencana maupun tak terduga. Momen pendewasaan dirasakan ketika saya sampai pada kesimpulan bahwa alih-alih menyingkir dari kondisi yang ada di hadapan kita, lebih baik memperjuangkan apa yang kita miliki saat ini sebagai momentum untuk meraih keberhasilan dimaksud. Dan saya mulai menekuni labirin-labirin penugasan untuk menemukan seni menikmati pekerjaan dimaksud. Tentu ini bukan berarti putus asa, hanya kala itu saya berpendapat bahwa lebih baik mempersiapkan diri agar kita mampu menerima keberhasilan tersebut, kapanpun ia akan datang, ketimbang mencarinya kesana kemari.
Kedua, saya dengan mantap merasa harus memulai daya juang, dimana hal tersebut dapat direalisasikan dengan membentuk keluarga baru dan tidak lagi tinggal bersama orangtua. Saat itu saya yakin, bahwa kita tidak akan mampu mengukur kedewasaan bila tidak menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Menguji diri kita mengambil keputusan sendiri, untuk diri sendiri, oleh diri sendiri. Hal yang kemudian saya yakini akan dapat dilaksanakan bila telah menikah dan membangun rumah tangga.
Acapkali terasa kebimbangan menerpa tentang apakah keluarga yang saya bangun ini mampu saya pimpin. Sebuah rumah tangga dimana seorang putri kecil telah hadir melengkapi kebahagiaan kami. Seringkali kecemasan-kecemasan tidak beralasan ujung pangkalnya muncul dikala duduk sendiri menjelang tidur. Perasaan yag campur aduk, yang kesemuanya berpangkal pada pertanyaan, apakah saya mampu membawa keluarga ini, menuju peningkatan kualitas dan kesejahteraan dibandingkan dengan apa yang keluarga induk kami, kedua belah pihak, yang telah dilakukan bagi kami sewaktu menjadi tanggungan mereka. Terkadang kecemasan tadi terlindas dengan kecemasan baru soal apakah didalam memperjuangkan cita-cita tersebut, saya juga masih mampu mengejar mimpi dan cita-cita personal yang telah saya miliki sejak kuliah dulu. Ambisi dan harapan bahwa saya akan terus sekolah setinggi-tingginya, ambisi bahwa saya akan menjadi orang besar, pemimpin yang mampu memperjuangkan hajat hidup orang banyak sebagaimana cerita-cerita orang besar yang dulu sering saya baca. Terkadang pikiran-pikiran tersebut menjadi lebih receh, soal kapan saya mulai melangkah dengan memiliki dan mengendarai mobil, dan mulai meninggalkan mobilitas roda dua yang telah belasan tahun menjadi bagian perjalanan hidup saya. Tentang bagaimana setelah memiliki mobil, sayas dapat merancang perjalanan jauh dengan keluarga tanpa ada lagi kecemasan, sebagaimana yang acapkali kami rasakan ketika harus beperjalanan jauh melalui jalur darat. Seringkali pemikiran dan kecemasan berlapis tersebut, tidak menemukan jawaban apalagi pencerahan, dan kemudian menyiksa tidur untuk kemudian bangun di pagi hari menjadi semakin berat dan kurang bersemangat.
Telah banyak waktu, jam-jam yang terbuang percuma di pagi hari, hanya karena terjebak pada pertanyaan pada diri sendiri, “Kalau bangun hari ini, mau mengerjakan apa?” Membayangkan runititas kantor yang monoton, tidak memberikan ruang untuk berkembang, apalagi peningkatan kapasitas dan penghasilan secara berkelanjutan. Seringkali pula kecemasan tersebut berakhir konyol dengan pertengkaran dengan istri. Hal sepele yang kemudian ditanggapi dengan sensitif dengan keluarnya kata-kata kasar. Tubuh menjadi semakin ringkih, menderita oleh diri sendiri.
Saya sangat mengingat bahwa periode setelah umur 25 sampai menuju umur 30 adalah periode hidup yang pelik, sunyi dan berat bagi kepribadian, mental dan spiritual. Begitu berat sehingga saya mulai menyukai setiap hal yang berbau kemurungan, gelap dan dingin, sebagai oase malam untuk berdiam seorang diri.
Tentu cerita ini akan terang benderang bila saya bisa menceritakan sedikit hal yang masih saya ingat pada momen usia 25 tahun. Kala itu, saya telah berkesimpulan bahwa menjalani pekerjaan sebagai birokrat pemerintah daerah di suatu kota kecil bernama Binjai adalah hal yang harus saya terima, selayaknya setiap orang tentu akan diletakkan di suatu tempat, baik terencana maupun tak terduga. Momen pendewasaan dirasakan ketika saya sampai pada kesimpulan bahwa alih-alih menyingkir dari kondisi yang ada di hadapan kita, lebih baik memperjuangkan apa yang kita miliki saat ini sebagai momentum untuk meraih keberhasilan dimaksud. Dan saya mulai menekuni labirin-labirin penugasan untuk menemukan seni menikmati pekerjaan dimaksud. Tentu ini bukan berarti putus asa, hanya kala itu saya berpendapat bahwa lebih baik mempersiapkan diri agar kita mampu menerima keberhasilan tersebut, kapanpun ia akan datang, ketimbang mencarinya kesana kemari.
Kedua, saya dengan mantap merasa harus memulai daya juang, dimana hal tersebut dapat direalisasikan dengan membentuk keluarga baru dan tidak lagi tinggal bersama orangtua. Saat itu saya yakin, bahwa kita tidak akan mampu mengukur kedewasaan bila tidak menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Menguji diri kita mengambil keputusan sendiri, untuk diri sendiri, oleh diri sendiri. Hal yang kemudian saya yakini akan dapat dilaksanakan bila telah menikah dan membangun rumah tangga.
Acapkali terasa kebimbangan menerpa tentang apakah keluarga yang saya bangun ini mampu saya pimpin. Sebuah rumah tangga dimana seorang putri kecil telah hadir melengkapi kebahagiaan kami. Seringkali kecemasan-kecemasan tidak beralasan ujung pangkalnya muncul dikala duduk sendiri menjelang tidur. Perasaan yag campur aduk, yang kesemuanya berpangkal pada pertanyaan, apakah saya mampu membawa keluarga ini, menuju peningkatan kualitas dan kesejahteraan dibandingkan dengan apa yang keluarga induk kami, kedua belah pihak, yang telah dilakukan bagi kami sewaktu menjadi tanggungan mereka. Terkadang kecemasan tadi terlindas dengan kecemasan baru soal apakah didalam memperjuangkan cita-cita tersebut, saya juga masih mampu mengejar mimpi dan cita-cita personal yang telah saya miliki sejak kuliah dulu. Ambisi dan harapan bahwa saya akan terus sekolah setinggi-tingginya, ambisi bahwa saya akan menjadi orang besar, pemimpin yang mampu memperjuangkan hajat hidup orang banyak sebagaimana cerita-cerita orang besar yang dulu sering saya baca. Terkadang pikiran-pikiran tersebut menjadi lebih receh, soal kapan saya mulai melangkah dengan memiliki dan mengendarai mobil, dan mulai meninggalkan mobilitas roda dua yang telah belasan tahun menjadi bagian perjalanan hidup saya. Tentang bagaimana setelah memiliki mobil, sayas dapat merancang perjalanan jauh dengan keluarga tanpa ada lagi kecemasan, sebagaimana yang acapkali kami rasakan ketika harus beperjalanan jauh melalui jalur darat. Seringkali pemikiran dan kecemasan berlapis tersebut, tidak menemukan jawaban apalagi pencerahan, dan kemudian menyiksa tidur untuk kemudian bangun di pagi hari menjadi semakin berat dan kurang bersemangat.
Telah banyak waktu, jam-jam yang terbuang percuma di pagi hari, hanya karena terjebak pada pertanyaan pada diri sendiri, “Kalau bangun hari ini, mau mengerjakan apa?” Membayangkan runititas kantor yang monoton, tidak memberikan ruang untuk berkembang, apalagi peningkatan kapasitas dan penghasilan secara berkelanjutan. Seringkali pula kecemasan tersebut berakhir konyol dengan pertengkaran dengan istri. Hal sepele yang kemudian ditanggapi dengan sensitif dengan keluarnya kata-kata kasar. Tubuh menjadi semakin ringkih, menderita oleh diri sendiri.
Saya sangat mengingat bahwa periode setelah umur 25 sampai menuju umur 30 adalah periode hidup yang pelik, sunyi dan berat bagi kepribadian, mental dan spiritual. Begitu berat sehingga saya mulai menyukai setiap hal yang berbau kemurungan, gelap dan dingin, sebagai oase malam untuk berdiam seorang diri.

Mungkin fase 25 - 30 tahun banyak dari kita mengalami quarter life crisis gan
BalasHapusTerima kasih banyak, Mas sudah mengunjungi blog sederhana saya. Benar, tulisan diatas sedikit menceritakan krisis yang saya alami beberapa tahun yang lalu.
Hapus